Jumat, 18 Januari 2013

Ki Ageng Mangir dan Trah : Perjuangan Utari Sandijayaningsih dalam serbuan Mataram ke Batavia 1629


Dibantu oleh Asisten JP Coen , Wong Agung Aceh, Nyi Utari yang saat itu menjadi penyanyi klub perwira VOC membunuh JP Coen pada dinihari tanggal 20 September 1629 dengan racun arsenikum dalam minuman sang Gubernur Jendral, kemudian ia memenggal kepala dan menyerahkannya pada Wong Agung Aceh (wali Mahmudin)  yang kemudian melarikannya keluar benteng. Kepala JP Coen kemudian diterima oleh Tumenggung Surotani dan Bagus Wanabaya untuk dibawa ke Mataram Plered dibawah komando Panembahan Juminah untuk dipersembahkan kepada Sultan Agung. Sultan Agung pribadi memerintahkan agar kepala itu diawetkan dan kelak dikuburkan ditengah tangga ke makam Sultan Agung. JP Coen tewas karena kelengahan dan kehilangan kewaspadaan karena terpukul kematian istri dan anaknya tanggal 16 September 1629 atau 4 hari sebelum JP Coen tewas, apakah Nyi Utari berperan dalam tewasnya istri dan anak JP Coen? yang jelas Nyi Utari adalah sahabat karib Eva Ment, istri JP Coen. Intrik dalam benteng Batavia ini dirancang cermat oleh Ki Lurah Bagus Wanabaya yang mempertaruhkan keselamatan Nyi Utari Sandi Jayaningsih anaknya, operasi intelejen ini dilaksanakan terinspirasi cerita saat Roro Pembayun, sang ibunda menjadi penari jalanan dalam upaya Mataram Kotagedhe menaklukkan kerajaan Mangir 50 tahun sebelumnya. Kini jasad sang pahlawan Nyi Utari Sandijayaningsih terbaring damai bersama jenazah Wong agung Aceh yang menjadi suaminya di keramat Tapos yang terkenal dengan keramat Wali Mahmudin, dinaungi oleh pohon Sengon Buto yang tumbuh miring merunduk seolah menghormati tuannya, Pohon Sengon buto besar bergaris tengah 2 meter itu menjadi saksi sebuah episode bisu perjuangan besar pahlawan Tapos Depok . Foto Foto dalam cerita ini : 1. Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram, pemberi perintah resmi Ekspedisi Kolodhuto 1,3 dan 3 yaitu perintah untuk menghancurkan kolonial VOC Belanda di Batavia pada tahun 1628 - 1629. 2. Eva Ment, istri Gubernur Jenderal VOC Jaan Peters Zoen Coen, meninggal akibat keracunan16 September 1629, bagian dari intrik pembunuhan JP Coen. 3, Jaan Pieters Zoen Coen, Pendiri kota Batavia ( Jakarta sekarang) Gubernur Jenderal VOC ke 4, Meninggal 20 September 1629, kepalanya ditebas oleh golok Nyimas utari Sandijayaningsih dibantu Ki Bagus Wonoboyo dan Wong Agung Aceh (Wali Mahmudin), Kepala itu dibawa ke Mataram Pleret, kelak dimakamkan dibawah tangga Makam Sultan Agung di Pajimatan Imogiri Yogyakarta pada tahun 1645 . 4. Nyimas Utari Sandijayaningsih, putri Ki Bagus Wanabaya, prajurit sandi andalan Mataram yang berkedudukan di Tapos Depok Jawa Barat. Salah satu pahlawan perempuan asli dari Tapos Depok yang bergerak langsung di garis belakang pertahanan lawan. Benteng Batavia dan cafe perwira VOC adalah palagan tempurnya.Jenazahnya kini dimakamkan di kampung Tapos Depok Jawabarat, ditandai dengan pohon sengon yang melengkung seakan merunduk menghormat pada sang pahlawan melawan kolonial Belanda di Nusantara.

Kamis, 17 Januari 2013

Jan Pieters Soen Coen, Patung, Makamnya serta Nyimas Utari Sandijayaningsih, Pembunuhnya


Tragis, sosok pahlawan Belanda yang bernama Yaan Pieters Soen Coen atau dalam sejarah jawa disebut Murjangkung, tewas oleh gadis belia cucu Ki Ageng Mangir dan Pembayun dalam benteng VOC di Batavia pada tanggal 20 September 1629, pembunuhnya Nyimas Utari Sandijayaningsih, salah satu pasukan telik sandi (intel) Mataram yang menyamar menjadi penyanyi bar di cafe VOC, pembunuhan gubernur jendral VOC itu dilaksanakan oleh tim penyusup yang dikomandani oleh Ki Bagus Wanabaya, putra Ki Ageng Mangir dan Roro Pembayun, berarti beliau adalah cucu langsung dari Panembahan Senopati.

Jejak perjuangan Ki Bagus Wanabaya Putra Mangir Wanabaya

Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah suami Kanjeng Roro Sekar Pembayun, putri Panembahan Senopati ing Mataram, perkawinan tunggalnya menghadirkan putra ki Bagus Wanabaya yang lahir di Pati Jawa Tengah pada tahun 1588, Bagus Wanabaya bersama ibunya sempat berguru pada Pangeran Benawa otra Joko Tingkir diwilayah Kendal Jawa tengah. Pada tahun 1818 bagus Wanabaya bertempur dipihak Mataram dibawah pimpinan Ki Bahurekso melawan Pos VOC di Jepara Jawa Tengah, pertempuran Jepara tersebut dimenangkan oleh pihak Mataram. Selanjutnya Ki bagus Wanabaya bersama keluarga besar Kanjeng Roro Sekar Pembayun hijrah ke Pajajaran untuk bertemu dengan orangtua Nyimas Linggar Jati istri Ki Bagus Wanabaya, adik dari sahabat karibnya yaitu Purwagalih atau disebut Ki Jepra (jenazahnya dimakamkan didalam Kebon Raya Bogor Jabar) selanjutnya karena mereka sudah berkomitment untuk membangun jaringan intelejen mataram di Batavia rombongan veteran Perang Jepara 1618 itu kembali menduduki pos di wilayah Banjaran Pucung Cilangkap Tapos Depok tepat di mata air Kali Sunter, mereka mendirikan basis gerilya dengan bimbingan Pangeran Jayakarta yang saat itu berkedudukan di Batavia diwilayah Jatinegara. Ki Bagus Wanabaya memimpin sekitar 80 tentara Mataram yang merupakan pasukan khusus yang bergerak dalam wilayah Benteng Batavia, merekalah pasukan Pandu Mataram yang kelak mempunyai peranan penting saat Sultan Agung menyerang Batavia di tahun 1628 - 1629. Sayangnya Kanjeng Roro Pembayun tak bisa menikmati buah kemenangan Mataram, beliau meninggal di Jatinegara 1625 tertembak pasukan VOC yang sedang menyerbu Pos Pangeran Jayakarta. Jenazahnya dimakamkan di Keramat Kebayunan Tapos Depok. Pada tanggal 20 September 1629 Nyimas Utari Sandijayaningsih, putri Bagus Wanabaya yang menyamar sebagai penyanyi cafe Batavia berhasil menjebak Jaan Pieters Soen Coen kedalam kamar pribadinya dan malam itu Yaan Pieter Soen Coen gubernur jendral VOC terbunuh . Dalam laporan resmi VOC JP Coen wafat akibat penyakit kholera pada tanggal 21 September 1629 kedudukannya digantikan oleh gubernur jendral Jaques Specx. Pasukan sandi khusus Mataram yang berhasil membunuh JP Coen membawa kepala JP Coen untuk diserahkan kepada Panembahan Juminah sebagai Jendral Mataram di Batavia, keberhasilan ini membuat Sultan Agung menerima saran Panembahan Juminah  untuk menghentikan serbuan Mataram ke Batavia. Walaupun tak ada jasa bagi Ki Bagus Wanabaya dan keluarganya atas semua jerih payah perjuangan di benteng VOC, namun ia masih tetap berjuang hingga wafat dan dimakamkan di dekat ibunya di Kebayunan Tapos Depok,

Kamis, 10 Januari 2013

Nisan Makam Nyimas Utari Sandijayaningsih dan Wali Mahmudin, pemenggal Kepala Jan Pieter Soen Coen, Penguasa Batavia thn 1629

Terbaring damai di makam Tapos Depok, Nyimas Utari Sandijayaningsih, dan Wali Mahmudin para pelaku peristiwa heroik ditengah gempuran tentara Mataram yang menimbulkan kerugian besar di benteng VOC di Batavia di tahun 1629. Bagi VOC kejadian 20 September 1629 adalah hari kelabu karena meninggalnya pahlawan mereka Jaan Piterz Soen Coen, yang sampai sekarang patungnya masih megah di kota Hoorn Belanda, VOC lebih suka menulis bahwa JP Coen meninggal karena Kholera, bukan ditebas batang lehernya oleh para telik sandi Mataram di dalam benteng VOC, Kepala Gubernur Jendral VOC ke 4 itu kini terkubur dibawah matu marmer putih di Pajimatan Imogiri ditengah tangga gerbang makam Sultan Agung, kini siapapun yang hendak masuk kedalam makam maka dia menginjak makam kepala Jaan Peterz Soen Coen musuh besar Sultan Agung yang tewas oleh keturunan Ki Ageng Mangir Pembayun di Tapos Depok.

Rabu, 02 Januari 2013

Kisah Sarah Specx -Batavia 1629, Intrik yang diciptakan Utari Sandijayaningsih

(Sara Specx, Lahir Hirado?, Japan 1616/17 – Meninggal Formosa ca. 1636)

Batavia 1629
…Sara Specx yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu…
Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, semua orang sama kedudukannya di mata sang dewi keadilan. Tidak peduli apakah seseorang anak pejabat atau anak petani, orang kaya atau miskin. Memang itulah prinsip yang harus dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab. Prinsip itu pula yang dijalankan Gubernur Jenderal Indië, Jan Pieterszoon Coen, selama dua kali masa pemerintahannya di Batavia 1619-1623 dan 1627-1629.
Salah satu kisah mengenai kerasnya, atau mungkin juga dapat dikatakan kejam, pemerintahan Coen dalam menegakkan hukum adalah cerita mengenai Sara Specx, putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx, yang kelak menjadi Gubernur Jenderal Indië menggantikan Coen periode antara tahun 1629-1632. Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita mengenal sedikit siapa Sara Specx dan ayahnya Jacques Specx.

Jacques Specx adalah seorang pejabat tinggi VOC di Indië (Indonesia – pada masa itu belum ada istilah Nederlandsch Indië yang ada hanya Oost Indië atau Hindia Timur yaitu Indonesia, VOC: Vereeniging Oost Indische Compagnie/ Perserikatan Dagang Hindia Timur). Sebelum datang ke Batavia, Jacques Specx dikenal selama dua kali periode menjadi pemimpin tertinggi VOC di Hirado Jepang antara tahun 1609-1613 dan 1614-1621. (Belanda pernah berkuasa di Jepang? Baca kisah berikutnya “VOC di Jepang”).
Salah satu keberhasilannya yaitu mendirikan dan mengembangkan pusat dan pos dagang VOC di Hirado Jepang. Berkat kepemimpinan Specx, Hirado berkembang menjadi markas dagang penting milik VOC di Jepang sebelum akhirnya dipindahkan ke Deshima (sekarang – Nagasaki) Jepang pada tahun 1641. Karena cukup lama menjadi pemimpin VOC di Jepang, Specx sempat diketahui menjalin hubungan dengan seorang wanita setempat – gadis Jepang. Dari hubungan tersebut lahirlah seorang anak gadis bernama Sara Specx. Jadi dapat dibayangkan bagaimana rupa Sara Specx yang merupakan percampuran darah Jepang dan Belanda. Pada tahun 1629 Jacques Specx di tugaskan sebagai pejabat tinggi VOC di Indië dengan jabatan de Eerste Raad Ordinair van Indië. Namun demikian karena urusan administrasi Specx harus kembali dahulu ke negeri Belanda. Sementara anak gadisnya Sara Specx berangkat lebih dahulu ke Batavia, karena pada waktu itu anak di luar perkawinan resmi sesama orang Belanda tidak diakui dan tidak boleh dibawa ke negeri Belanda. Sara yang merupakan anak pejabat tinggi VOC, di Batavia tinggal dan dititipkan di rumah penguasa Batavia saat itu Jan Pieterszoon Coen di dalam lingkungan kastil juga merupakan benteng kota Batavia.

Sara pada masa itu masih belia, usianya baru 12 tahun. Ia senang tinggal di rumah Gubernur Jenderal. Seperti halnya di masa sekarang, rumah penguasa nomor satu Batavia itu dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan yang gagah dan tampan. Kawasan Batavia di sekitar benteng Belanda di masa itu sangat rawan. Pihak kesultanan Banten, Demak dan Mataram tidak menyukai keberadaan Belanda di Kalapa atau Batavia. Mereka berulang kali berusaha menyerang benteng tersebut. Karena kondisi itu maka kehidupan orang-orang Belanda Batavia kebanyakan hanya dihabiskan di dalam lingkungan benteng. Demikian pula yang terjadi pada Sara Specx di Batavia.
Karena sehari-hari tinggal di lingkungan rumah Jan Pieterszoon Coen yang dikelilingi prajurit penjaga yang gagah-gagah tersebut, Sara yang masih muda belia lama kelamaan jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan penjaga kastil Batavia yang bernama, Pieter J. Cortenhoeff. Syahdan keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu. Sang Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen yang mendengar kabar angin mengenai hal tersebut tidak ambil pusing karena masih banyak urusan lain yang lebih penting di Batavia. Ia lebih mementingkan urusan pertahanan benteng Batavia dari gempuran pasukan Mataram daripada memikirkan hal tersebut.

Pada awalnya hubungan asmara keduanya berjalan lancar hingga pada suatu malam sebuah peristiwa menggemparkan terjadi di lingkungan kastil Batavia. Hubungan asmara Sara dengan Pieter sampai pada puncaknya. Pada suatu malam Sara dengan diam-diam mengijinkan sang pujaan hatinya masuk ke kamarnya yang notabene adalah rumah sang Gubernur Jenderal. Lingkungan kastil yang indah pada waktu itu ditambah dengan desiran angin laut (lihat peta/ gambar kota benteng Batavia saat itu berada tak jauh dari pantai – sekarang sekitar kawasan pelabuhan Sunda Kalapa) membuat suasana menjadi semakin romantis dan membuat mereka berdua menjadi semakin lupa diri. Sara pun jatuh dalam pelukan hangat Pieter. Selanjutnya entah bagaimana, tak disangka-sangka kejadian itu ternyata diketahui Jan Pieterszoon Coen.

Sang Gubernur Jenderal menjadi sangat murka. Ia tidak terima kediamannya dinodai oleh perbuatan zinah Sara dan anak buahnya. Sebagai catatan, pada masa itu, norma-norma gereja dan aturan agama yang dibawa dari negeri asal masih sangat ketat sehingga perbuatan yang dilakukan Sara dan Pieter benar-benar dianggap sudah melampaui batas. Seketika itu pula sang penguasa Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya. Namun untunglah pimpinan Dewan Pengadilan Batavia atau Raad van Justitie langsung turun tangan menengahi masalah tersebut dan menyatakan hal tersebut harus dibawa dahulu ke meja pengadilan. 

Setelah proses pengadilan dan Raad van Indie akhirnya pada 18 Juni 1629 keduanya tetap dinyatakan bersalah melakukan perzinahan. Prajurit muda penjaga kastil atau bahasa Belandanya de vaandrig van de kasteelwacht, Pieter J. Cortenhoeff dieksekusi mati, dipenggal kepalanya pada tanggal 19 Juni 1629 di depan umum di halaman balai kota atau Stadhuisplein Batavia yang kini dikenal dengan taman Fatahillah, di halaman depan Museum Sejarah Jakarta. Sementara Sara Specx yang berusia 12 tahun itu dijatuhi hukuman cambuk berkali-kali di hadapan umum di depan gerbang balaikota Batavia atau sekarang di sekitar depan gerbang masuk Museum Sejarah Jakarta. Hukuman tetap dilaksanakan!. Meskipun memiliki kekuasaan namun Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tidak mau menggunakannya untuk membatalkan ataupun mengintervensi keputusan eksekusi pengadilan Raad van Justitie. Ia berprinsip yang salah tetap harus dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku (ia juga tidak memperdulikan bahwa Sara adalah anak pejabat tinggi VOC). Padahal ia bisa saja mengganti eksekusi yang kejam terhadap Sara tersebut, dengan hanya mengurungnya di dalam rutan di benteng Batavia!!.
 
Tak lama setelah kejadian itu di tahun yang sama 1629 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia (penyebab kematian Coen hingga kini masih menjadi tanda tanya, ada sumber mengatakan karena sakit malaria atau kolera, ada pula yang mengatakan tewas dalam serangan bala tentara Islam Mataram pimpinan Sultan Agung – Jan Pieterszoon Coen dimakamkan di pekuburan di halaman samping gereja Oud Hollandsche Kerk yang kini menjadi Museum Wayang). Selanjutnya Jacques Specx yang tiba di Batavia  dari negeri Belanda diangkat menjadi Gubernur Jenderal mengantikan Coen.
Tidak ada catatan mengenai reaksi Specx atas kejadian yang menyangkut putrinya tersebut namun ia menolak untuk datang ibadah hari minggu sebagaimana juga yang dilakukan para hakim yang menyidangkan perkara anaknya. Sementara Sara pada 20 Mei 1632 diketahui menikah dengan seorang Pendeta Protestan berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC, Georg Candidus (1597-1647). Setahun kemudian Mei 1633 mereka pindah ke daerah kekuasaan VOC di Formosa (Taiwan) dan meninggal sebagai wanita terhormat dalam usia muda pada sekitar tahun 1636.
Tak ada yang tahu bahwa sebetulnya kejadian ini telah direncanakan dengan sangat matang oleh Utari Sandijayaningsih, Pieter J Cortenhoff adalah salah satu perwira intelejen kepercayaan JP Coen yang mampu mengendus jaringan telik sandi Mataram dibawah pimpinan Bagus Wanabaya, operasi kilat penjebakan dilakukan saat Cortenhoof setengah mabuk dipancing masuk ke kamar Sarah Specx yang tengah tertidur lelap dengan kamar tidak terkunci,alih alih masuk ke kamar Utari Sandijayaningsih, Coertenhoeff malah masuk kekamar Sarah maka skenario pemerkosaan lebih mengemuka, Utari Sandijayaningsih segera mengontak beberapa perwira VOC lain yang iri pada kedudukan pimpinan yang dipegang Cortenhoof dan menangkap basah pemerkosa Sarah Specx itu, sebagai orang yang dipercaya oleh Jaques Speck , JP Coen tidak bisa menahan kemarahan dan langsung menghukum mati Cortenhoeff, sementara Sarah dibebaskan.

Selasa, 01 Januari 2013

Aksara Jawa Sebagai Pedoman Perjodohan

Masyarakat Jawa dikenal mempunyai perhitungan waktu yang rumit, yang kadang-kadang bahkan membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Perhitungan waktu atau lebih dikenal dengan sebutan Petung ini digunakan hampir dalam setiap peristiwa-peristiwa yang dianggap penting. Sebut saja seperti mendirikan rumah, memulai tandur di sawah, sampai pernikahan.
Khusus pada acara pernikahan, petung ini sangat rumit. Dari yang telah dikenal masyarakat seperti kriteria pasangan harus sesuai bibit, bebet, bobot-nya, sampai ke masalah hari baik ataupun hari buruk (sangaran). Belum lagi apakah calon pasangan cocok yang dilihat dari weton, neptu, ataupun menggunakan aksara Jawa sebagai pedoman perjodohan.
Di sinilah uniknya Masyarakat Jawa dengan kebudayaannya, dimana aksara jawa yang biasanya digunakan untuk menulis, juga bisa digunakan sebagai pedoman perjodohan. Bagaimana cara mengetahuinya? (KPH. Tjakranigrat – Primbon Betaljemur Adammakna: 1980 – 20, dalam Kuswa Endah – Petung, Prosesi, dan Sesaji Dalam Ritual Manten Masyarakat Jawa – UNY):
Ketentuannya adalah seperti ini:
Ha (1) - Na (2) - Ca (3) - Ra (4) - Ka (5)
Da (6) - Ta (7) - Sa (8) - Wa (9) - La (10)
Pa (11) - Dha (12) - Ja (13) - Ya (14) - Nya (15)
Ma (16) - Ga (17) - Ba (18) - Tha (19) - Nga (20)
Kemudian caranya adalah seperti ini:
Misalkan seorang laki-laki bernama Tono akan menikah dengan Siti. Maka untuk menghitung perjodohan menggunakan aksara jawa adalah:
Ta (diambil dari nama Tono) + Sa (diambil dari Siti) = 7+8 = 15
Kemudian angka 15 dibagi 5 hasilnya 3.
Apa arti 3? Mari lihat uraian di bawah ini:
Sisa 1 disebut Sri, bermakna selamat dan rejekinya baik
Sisa 2 disebut Lungguh, bermakna berpangkat tinggi
Sisa 3 disebut Gedhong, bermakna hidupnya akan berkecukupan
Sisa 4 disebut Lara, hidupnya sering mendapatkan kesulitan
Sisa 5 disebut Pati, bermakna sering mendapat bencana.
Lantas bagaimana dengan perjodohan anda? Silahkan dihitung...

Kidung Rumekso ing Wengi: Masterpiece Kanjeng Sunan Kalijaga

Kidung Rumekso ing Wengi merupakan salah satu dari sekian banyak warisan yang ditinggalkan oleh Sunan Kalijaga yang masih lestari sampai saat ini. Kidung ini terdiri dari lima bait, berbentuk tembang Macapat berjenis Dhandhanggula. Rumekso ing Wengi, yang jika diterjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia menjadi “Perlindungan di Malam Hari.” Jika diamati, syair tembang ini memang menyiratkan bahwa tembang ini bisa juga berfungsi sebagai doa. Bagi orang muslim mungkin doa selalu dilafalkan dalam Bahasa Arab, tapi bagi orang muslim yang kurang memahami Bahasa Arab, berdoa dengan menggunakan Bahasa Arab akan sedikit merasa kesulitan. Bukankan Tuhan mengetahui apa saja, termasuk semua bahasa di dunia ini?
Sebagai salah satu wali, Sunan Kalijaga memahami hal itu. Maka dalam dakwahnya Sunan Kalijaga menggunakan tradisi asli yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menyatu dengan agama Islam. Dengan kata lain, Islam menyempurnakan apa yang sudah ada di Jawa. Tembang terkenal seperti Ilir-ilir contohnya.
Kidung Rumekso ing Wengi ini konon mampu menjadi tolak bala, baik yang berasal dari manusia ataupun serangan-serangan yang bersifat gaib. Bisa diamati pada syairnya yang menunjukkan hal tersebut. Memang sedikit sulit dipahami, tapi sebenarnya hal ini hampir mirip dengan doa-doa yang biasa dilafalkan, bedanya hanya menggunakan Bahasa Jawa. Berikut adalah syair Kidung Rumekso ing Wengi, yang terdiri dari lima bait berbentuk tembang Macapat Dhandhanggula.

Pupuh 1
Ana kidung rumekso ing wengi| Teguh ayu luputa ing lara| Luput ing bilahi kabeh| Jin setan datan purun| Paneluhan tan ana wani| Miwah panggawe ala| Gunane wong luput| Geni atemahan tirta| Maling arda tan ana ngarah mring kami| Tuju nduduk pan sirna|
Pupuh 2
Sakehing lara pan samya bali| Sakeh ngama pan sami miruda| Welas asih pandulune| Sakehing braja luput| Kadi kapuk tiba neng wesi| Sakehing wisa tawa| Sato galak tutut| Kayu aeng lemah sangar| Songing landhak guwaning wong neng lemah miring| Myang pakiponing merak|
Pupuh 3
Pagupakaning warak sakalir| Nadyan arca myang segara asat| Temahan rahayu kabeh| Apan sarira ayu| Ingideran kang widadari| Rineksa malaekat| Lan sagung para Rasul| Pinayungan ing Hyang Suksma| Atiku Adam utekku Bagindha Esis| Pangucapku ya Musa|
Pupuh 4
Napasku Nabi Ngisa linuwih| Nabi Yakub pamiyarsaningwang| Dawud swaraku mangke| Nabi Brahim nyawaku| Nabi Sleman kasekten mami| Nabi Yusup rupengwang| Edris ing rambutku| Bagindha Ngali kulitingwang| Abubakar getih daging Ngumar singgih| Balung Bagindha Ngusman|
Pupuh 5
Sungsumingsun Patimah linuwih| Siti Aminah bayuning angga| Ayub ing ususku mangke| Nabi Nuh ing jejantung| Nabi Yunus ing otot mami| Netraku ya Muhammad| Panduluku Rasul| Pinayungan Adam Kawa| Sampun pepak sakathahe para Nabi| Dadya sarira tunggal|