Sabtu, 16 Maret 2013

JANGAN PERCAYA MENTAH MENTAH SEJARAH VERSI VOC BELANDA : Sejarah kabur Pahlawan Nasional dari Mataram

Untung Surapati merupakan salah seorang pahlawan nasional Indonesia berdasarkan penetapan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975. Menurut sejarah (Sejarah yang  mana ?) , Untung Surapati berasal dari Bali (Sumber kekacauan sejarah VOC, ditulis susudah Untung menjadi musuh besar VOC, agar kraton Mataram mengganggap dia bukan orang Jawa) yang awalnya ditemukan oleh perwira VOC yang ditugaskan di Makasar yang bernama Kapten van Beber (tidak ada nama Beber dalam jajaran perwira VOC saat itu, kemungkinan besar berasal dari kata wayang ). Perwira VOC itu kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain di Batavia bernama Moor (Tidak ada tradisi menjual budak kepada sesama perwira). Ketika usianya 20 tahun, ia dimasukkan ke penjara oleh Moor karena berani menikahi putrinya yang bernama Suzane. (Padahal Untung dipenjara karena ketahuan silsilahnya sebagai keturunan mata mata Mataram). Kemudian Untung memimpin pergerakan para tahanan hingga akhirnya berhasil kabur dari penjara dan menjadi buronan. Pada tahun 1683, VOC berhasil mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa, sang raja Banten. Putra sang raja yang bernama Pangeran Purbaya melakukan pelarian ke Gunung Gede. Setelah melalui proses yang panjang, pangeran Purbaya memutuskan menyerah asalkan ia dijemput oleh perwira VOC pribumi. Beruntungnya, Untung telah menerima tawaran sebagai tentara VOC (Padahal VOC tahu persis bahwa Untung pasti bisa ke martkas Banten di Depok dan mendekati garis pertahanan Banten karena kedekatan dengan para saudaranya seketurunan Mataram di Depok) dan dilatih ketentaraan. Ia diberi pangkat letnan dan saat itu ditugasi untuk menjemput Pangeran Purbaya. ( Jelas untung kenal sekali dengan Pangeran Purbaya karena istrinya Ambo Mayangsari adalah guru ngaji Untung di Batavia), Dalam tugas rahasia dengan Pangeran Purbaya mengantarkan istri P. Purbaya ke ayahnya di Kartosuro.Untung yang tiba di Kartasura kemudian mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada Patih Nerangkusuma, ayahnya, yang juga tokoh anti VOC. Ia gencar melakukan pendesakan kepada Amangkurat II untuk melanggar kesepakatan dengan Belanda. Nerangkusuma kemudian menikahkan Gusik Kusuma dengan Suropati. Pada Februari 1686, batalyon tempur Kapten François Tack yang merupakan perwira VOC senior tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC. Pertempuran pun tidak terhindarkan. Pasukan VOC sebanyak 75 orang tewas, termasuk Kapten Tack yang tewas di tangan Untung.Amangkurat II yang takut pengkhianatannya terbongkar kemudian merestui Suropati dan Nerangkusuma untuk merebut Pasuruan. Di Pasuruan, Suropati berhasil mengalahkan Anggajaya, Sang bupati. Untung Suropati pun menjabat menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara. Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC dibawah pimpinan Mayor Goovert Knole menyerang Pasuruan. Pertempuran tersebut menewaskan Untung Suropati pada tanggal 17 Oktober 1706. Untung Suropati tak pernah lari ke Bali karena dia memang bukan bangsawan Bali seperti sejarah yang ditulis VOC

Keturunan Ki Ageng Mangir di Jawa Barat :Syech Abdul Muhyi Pamijahan, Embah Dalem Arif Muhammad Cangkuang Leles, Syekh Mbah Eyang Haji Abdul Manaf Mahmud Cilegong Bandung

Candi disamping makam Arif Muhammad
Raden Panji Wanayasa seorang ulama seorang Canggah (cucunya Roro Pembayun ) keturunan langsung dari Panembahan Senopati Mataram yang mempunyai anak diantaranya bernama Eyang Abdul Manaf, berkelana menuntut ilmu ke Mekah di abad ke 15. Sepulangnya dari tanah suci, dia memilih untuk menetap di daerah rawa angker yang terletak di kelilingi sungai Citarum untuk melakukan syiar Islam bersama sejumlah santrinya.Dengan kesaktiannya, segenggam tanah yang dibawanya dari tanah suci ditebar ditengah rawa, bersama saudara-saudaranya : Raden Arif Maulana, Raden Untung, Raden Wasibagno Timur (Ki Ageng Gribig) menunaikan ibadah haji melalui pelabuhan Sunda Kelapa milik VOC dengan menumpang kapal milik VOC, mengapa mereka bisa mendapatkan kemudahan untuk naik haji ke Mekah dengan kapal VOC, karena waktu itu jaringan prajurit sandi Mataram masih kuat diantaranya adalah keturunan Lie Suntek yang membuka jasa pelayaran bekerjasama dengan Kapiten Cina menantu Lie Suntek itu. Dan munculnya asal mula kampung Mahmud yang kita kenal seperti sekarang memang bermula dari keberadaan Raden Haji Mahmud cicit Panembahan Senopati yang berkibar pasca penyerbuan Mataram ke VOC tahun 1629 itu . Namun ada beberapa pantangannya yang harus dipatuhi oleh keturunan Sang Eyang Abdul Manaf agar kelangsungan hidup kampung Mahmud bisa tetap harmonis selaras alam dan nilai kehidupan yang diajarkannya dapat terus bergaung.

Untuk mengetahui secara langsung bagaimana keadaan kampung Mahmud itu pada saat sekarang,  Cerita mistis romantik asal mula kampung tersebut hampir sudah tidak meninggalkan bekas.Selain berfungsi sebagai tempat penyiaran agama Islam di sekeliling kota Bandung, awalnya kampung Mahmud juga berfungsi sebagai tempat persembunyian dari ancaman penjajah. Untuk itu dibuatlah pantangan untuk tidak boleh memelihara ternak seperti kambing dan bebek serta tidak diperbolehkan membunyikan beduk dan gong di kampung tersebut.Namun ketika melewat depan gerbang Mesjid, terlihat beberapa ekor ayam berkeliaran di pekarangan rumah. Apakah hal itu juga berarti larangan berternak juga sudah tidak berlaku lagi di sini?Ada satu hal yang patut dicatat di sini, ( lihat gambar 1 di atas ) diujung kampung terdapat sebuah jalan setapak kecil yang membelah sungai Citarum dan ada kisah lain mengenai sungai tersebut yang kemudian membuat kampung Mahmud penuh mistis.

Menurut kepercayaan penduduk sana, selama ini kampung Mahmud tidak pernah mengalami banjir walau pun tepat berada di pinggiran sungai Citarum. Hal ini karena kampung Mahmud dilindungi oleh makhluk gaib berkepala manusia tapi berbadan ular bersisik emas. Mahluk ular berwajah ganteng keturunan Nyai Roro Jlegong dari Ki Ageng Mangir ini kadang-kadang menampakkan dirinya kepada orang tertentu untuk mewujudkan permintaan. Mungkinkah ular gaib dari kampung Mahmud merupakan salah satu keturunan dari Ular yang manjadi tombak Baru Klinthing dalam kisah Ki Ageng Mangir II dari tanah Jawa? wallahu alam . Yang jelas Sang Eyang Abdul Manaf oleh penduduk setempat disebut sebagai Eyang Mahmud atau Eyang Haji. Dari situlah nama kampung itu berasal. 

Sejarah kampung ini berkaitan erat dengan sejarah Raden Panji Wanayasa cucu Ratu Pembayun dan bermula dari Kampung Pulo tahun 1690 M, Ketika itu, datanglah kakak beradik Abdul Muhyi, Abdul Manaf dan Arif Muhammad cicit dari Ki Ageng Mangir dari Raden Panji Wanayasa di Tapos Depok, salah satu panglima perang kerajaan Mataram melawan VOC 1629 dan Banten 1686. Dalam pelariannya melawan Belanda VOC, Kakak beradik tersebut sedang membuka pos pos pasukan Mataram di wilayah selatan Jawa Barat, saat Abdul Muhyi diutus ke Tasikmalaya dan Abdul Manaf diutus ke Bandung oleh ayahnya, karena tidak ada perintah khusus embah Arif memutuskan menetap di desa Pulo. Sambil menyebarkan agama Islam, Konon sambil beristirahat Embah Dalem Arif Muhammad terkenang akan rumah ayahnya ditepi danau Jatijajar dimasa ia kecil dahului , tiba tiba terdengar kata kata Raden Panji Wanayasa "kalau anak-anakku  rindu pada ayahanda, buatlah danau yang mengelilingi desa", . Esoknya, secara ajaib muncullah sebuah situ, yang kini bernama situ Cangkuang. Kisah itu diceritakan turun temurun di Kampung Pulo, Kecamatan Leles, Garut. Situ Cangkuang yang kini menjadi objek wisata, menyimpan banyak kisah. Begitu juga Candi Cangkuang di seberang situ, serta makam Arif Muhammad di sebelahnya. Untuk mencapai lokasi, rakit bambu disediakan pengelola. Cukup Rp 8.000 untuk dewasa dan Rp 4.000 untuk anak-anak. Tak sampai sepuluh menit menyebrangi situ, kami sudah bisa sampai di candi setinggi delapan setengah meter itu. Perpaduan Hindu-Islam menjadi ciri istimewa. Candi dan makam Arif Muhammad terletak bersisian menandakan harmoni dua agama. Pertama kali candi ditemukan pada 1966 oleh Harsoyo dan Uka Candrasasmita. Penemuan ini berdasarkan laporan Vorderman tahun 1893. Sayangnya, candi Cangkuang ditemukan tak berbentuk. Hanya bersisa 40 persen saja puingnya yang 60 persen yang hilang lalu dibuat replika. Sehingga pada 1976, candi itu utuh kembali. Tepat di belakang komplek candi, terdapat rumah adat yang dengan bebas bisa ditelusuri. Rumah adat Kampung Pulo hanya tujuh saja jumlahnya. Tak boleh lebih, juga tak boleh kurang. Susunannya seperti huruf U, lingkungannya terawat, bersih, dan rapi. Jumlah ini simbol dari tujuh anak Arif Muhammad. Satu bangunan masjid melambangkan anak laki-laki. Enam lainnya berupa rumah tinggal, melambangkan anak perempuan.

Jumat, 15 Maret 2013

Syech Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya, Putra Bungsu Panji Wanayasa Kelahiran Tapos Depok.

Gua Safarwadi , Tempat Tafakur Raden Abdul Muhyi
Syech Abdul Muhyi adalah tokoh ulama legendaris yang lahir di Tapos Depok tahun 1650. Beliau merupakan putra Raden Panji Wanayasa di Jatijajar Tapos Depok, Darah Mataram mengalir deras karena beliau adalah canggah Panembahan Senopati Mataram, serta cicit ki Ageng Mangir Pembayun. Ia tumbuh dan menghabiskan masa mudanya di Depok, Imogiri  dan lama bermukim di Gresik dan Ampel, Jawa Timur. Ia pernah menuntut ilmu di Pesantren Kuala Aceh selama delapan tahun. Ia kemudian memperdalam Islam di Baghdad pada usia 27 tahun dan menunaikan ibadah haji.  Setelah berhaji, ia kembali ke Jawa untuk membantu misi ayahnya Panji Wanayasa menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Awalnya Abdul Muhyi menyebarkan Islam di Darma, Kuningan, dan menetap di sana selama tujuh tahun. Selanjutnya, atas perintah abangnya Arief Maulana Garut ia mengembara hingga ke Pameungpeuk, Garut Selatan, selama setahun.
Syekh Abdul Muhyi. Di dalam silsilah Mataram, adalah putra Bungsu Raden Panji Wanayasa  disebutkan sebagai anak ketiga Raden Tumenggung Bagus Wanabaya dan cucu Raden Ayu Roro Pembayun Putri dari Panembahan Senopati Mataram yang memerintah pada paruh pertama abad XVI. Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Tapos Depok Jawa Barat, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Syech Abdul Muhyi adalah guru dari Syech Yusuf Al Makassari. Ulama tarekat Syattariah ini dalam naskah Kitab Istiqlal Thariqah Qadariyah Naqsabandiyah juga disebutkan bahwa ada tiga guru tarekat yang diwarisi tasawuf Pamijahan yaitu: Abdul Qadir Jaelani, Abdul Jabbar dan Abdul Rauf Singkel. Apabila Abdul Qadir Jaelani disebut sebagai ‘wali awal’, maka Abdul Muhyi dianggap sebagai ‘wali penutup’. Kedudukan ini memang dibuktikan oleh kenyataan bahwa setelah wafatnya, keturunan Abdul Muhyi tidak lagi menggunakan gelar Syekh. Istilah ‘wali penutup’ memang menjadi pertanyaan, sebab dalam sejarah Islam wali akan tetap ada setiap zaman, tetapi hanya para ‘wali’ yang mengetahui keberadaan seorang ‘wali’.  
Sebagai keturunan raja, tidak banyak disebutkan dalam Kitab Istiqlal Thariqah Qadariyah Naqsabandiyah perihal garis silsilah bapak, tetapi dijelaskan di dalam naskah lain yang disebut  dari Ratu Galuh. Ayah Syekh Abdul  Muhyi yang bernama Raden Panji Wanayasa Jatijajar yang adalah keturunan dari Ratu Galuh (neneknya, Nyi Linggar Jati istri Bagius Wanabaya di Kebayunan Tapos Depok). Perkawinan Panji Wanayasa putri Sunda melahirkan 5 orang anak: Arif Muhammad, Untung (Saat itu belum bernama Suropati), Abdul Manaf,  terakhir adalah Syekh Abdul Muhyi Syekh Abdul Muhyi mempunyai hubungan kekerabatan tidak langsung dengan Sultan Pajang, Pangeran Adiwijaya (Jaka Tingkir),
Silsilah Bupati Sukapura menurut naskah Leiden Cod. Or. 7445 secara Genealogi dimulai dari empat orang isteri Syekh Abdul Muhyi, itupun terutama dari isteri yang pertama (Sembah Ayu Bakta) sebagai leluhur para bupati Sukapura dari pihak ibu, adalah putri dari Sembah Dalem Sacaparana.
Selain itu, R. Ajeng Halimah atau disebut juga Ayu Salamah, putri ketiga dari Raden Tumenggung Anggadipa Wiradadaha III, penguasa Sukapura (Tasikmalaya) waktu itu, dan juga adik bungsu dari Raden Yudanagara I, adalah juga salah seorang istri Syekh Abdul Muhyi.

Rabu, 13 Februari 2013

Arif Maulana, Jejak Keturunan Panji Wanayasa di Leles Garut

Raden Panji Wanayasa putra Bagus Wanabaya disemayamkan di Setu Jatijajar Tapos Depok, selain menikah dengan seorang wanita keturunan China di daerah Glodok , Panji Wanayasa juga menikah dengan seorang gadis dari Priangan, dari gadis Priangan tersebut beliau mempunyai beberapa beberapa orang putra yang menyebar diwilayah Jawa Barat antara embah dalem Mahmud Abdul Manaf di Margahayu Bandung dan Embah Dalem Arif Muhammad di Cileles Garut, para keturunan mereka mengetahui bahwa leluhur mereka adalah orang Mataram yang menetap di wilayah mereka sekarang ini, salah satu yang sedang kami telusuri adalah apakah Letnan Untung Suropati adalah salah satu anak dari Raden Panji Wanayasa di Jatijajar. Dalam jejak rekam VOC Belanda diceritakan bahwa Untung adalah salah satu bengsawan Bali yang dijadikan budak di Batavia, tetapi jejak ini dikemukakan sesudah Untung lari ke Mataram dan menggalang orang Mataram untuk bersekutu dengannya, makanya pihak Belanda segera mengcounter keberadaan Untung agar tidak bisa dipercaya oleh orang orang Mataram, maka dipilihlah latar belakang untung sebagai orang Bali yang mempunyai latar belakang Hindu, namun pihak Kraton Mataram di Surakarta tidak terkecoh dan tetap menganggap bahwa untung masih berdarah keturunan Mataram dari Panembahan Senopati ke Roro Pembayun dan Ki Ageng Mangir, seandainya benar maka Untung Suropati adalah salahsatu keturunan Mangir yang menjadi Pahlawan Nasional, namun nasibnya sama dengan Ki Ageng Mangir yaitu gugur dipertempuran dengan jenazah dikuburkan tanpa nisan tanpa tanda apapun.

Selasa, 29 Januari 2013

Legenda Pangeran Pengampun, Sosok Misterius dunia persilatan Nusantara


Bagi para guru sepuh ilmu silat, nama Pangeran Pengampun bukanlah nama yang asing. Tetapi pada saat sekarang mungkin hanya beberapa perguruan ssaja yang masih mengenalkan sosok legendaris Pangeran Pengampun. Konon ilmu silat sudah dikenal jauh sebelum agama Hindu dan Buddha masuk ke nusantara. Dimana dibuktikan bahwa di Nusantara ini (sebut saja Pulau Jawa), sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi. Banyak fosil manusia tertua didunia ditemukan di daratan pulau Jawa, seperti dimulai dari pithecantrphus eretus sampai ke Mojokerto soloensis.
Konon di pulau Jawa dalam legenda pernah ada suatu negara atau kerjaan yang sudah menganut faham monotheos. Yang diapit oleh dua Samodra yakni Samudra Hindia dan samudra Pasicik. Negera tersebut disebut negara Hartharanus. Dimana Prabu Heru Cakra sebagai rajanya. Pada masa ini bahasa resmi kerajaan bernama bahasa Ingsun Sabda yang biasa disebut dengan akronim Sun-Da. Dipercaya bahwa bahasa Sun-Da adalah bahasa kerajaan yang dipakai saat itu. Pulau Jawa adalah merupakan daerah kapital dari kerajaan Hartharanus. Layaknya sebuah bahasa, maka setiap bahasa memeiliki charakter sebagai sarana untuk berkomunikasi tulis. Dalam kenyataanya aksara Sun-Da hingga saat ini masih ada dan dimiliki oleh mereka yang berusaha untuk melestarikan agar tidak punah. Meski mereka sudah tidak bisa membacanya lagi.
Pangeran Penganpun adalah satu diantara kerabat prabu Heru Cakra yang namanya tetap hidup sampai saat sekarang. Dimana ilmu yang digelar oleh Pangeran Pengampun adalah ilmu pengharkatan energi yang berbasis pada hubungan urat syarat yang berhubungan dengan setiap ruas tulang manusia. Khususnya Ruas tulang belakang dari mulai tulang ekor sampai dengan tulang tengkorak. Ilmu tersebut dikenal dengan istilah Gelang Naga (Gelang tenaga). Konon dinasti Shambala dari Tibet mempelajari ilmu ini melalui pertukaran budaya pada masa kejayaan Sriwijaya. Yang kemudian dikenal dengan ilmu Kala Cakra..
Jelasnya bahwa keilmuan Gelang Naga (gelang tenaga) yang membangkitkan (harkatan /herkaton) energi melalui ring-ring dari disetiap ruas tulang manusia. Dimana setiap disetiap ring ruas tulang terhubung dengan urat syaraf yang berhubungan dengan organ organ vital manusia. Yang dalam pengertianya jika energi ini mengalami hambatan, maka ada bagian spesifik tubuh yang tidak teraliri oleh energi yang dirasakan sebagai rasa sakit di organ tersebut yang terasa tidak nyaman.
Masuknya agama Hindhu dan Buddha ke Jawa, menyebabkan keilmuan yang berasal dari Pangeran Pengampun semakin maju bahkan beredar keluar pulau Jawa. Namun lafads Pengampun sangat sulit diucapkan bagi orang diluar Jawa. Sehingga pemujaan terhadapa Pangeran Pengampun hanyalah terdengar seperti gumanan / lafads yang berbunyi Houm houm houm). Demikian pula setelah Nusantara dimasuki agama Islam pemujaan terhadap Pangeran Pengampun disebut sebagai Waliullah wakil Kesatu. Dari sekian banyak ilmu hikmah yang diajarkan oleh para Wali banyak menyebutkan Pangeran Pengampun Waliullah wakil kesatu
Sehingga secara jelas bahwa legenda Pangeran Pengampun tetap hidup dimulai dari zaman Pra Hindu Budha sampai saat sekarang. Sosok Pangeran Pengampun adalah tokoh yang tidak masuk dalam catatan sejarah dan namanya hidup dimasyarakat maka beliau menjadi tokoh legenda. Akan tetapi bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu hikmah akan menemui sebutan Pangeran Pengampun waliullah wakil kesatu didalam mantra2 tertentu.
Di tatar Sunda (parahiangan), dipercaya bahwa Pangeran Pengampun pernah hidup di Bantar Kawung Cianjur Jawa barat. Sedangkan di Jawa Tengah Pangeran Pengampun dipercaya pernah hidup di masa kerajaan Hartharnus. Dan dihormati namanya oleh para Wali dengan sebutan Waliullah wakil Kesatu yang artinya Wakil yang berkaromah yang berkedudukan diatas para wali.
Kesimpulan sementara: Pertama. Bahwa di pulau Jawa ada bahasa kesatuan yang disebut Bahasa Sun-da (bahasa Ingsun Sabda). Kedua. Keilmuan tentang energi berkaitan dengan energi yang memancar / merambat dari settiap ruas tulang manusia khususnya ruas ruas tulang punggung. mengalir melalui urat syarat menuju organ organ tubuh yang vital. Ketga: banyak versi tentang legenda Pangeran Pengampun yang beredar di masyarakat. Keempat. Negara Hartharanus jika dibaca dari belakang menjadi Nusantara. Kelima. Dalam spelling orang Barat kata Hartharnus menjadi Atlantis. Yang dipercaya oleh orang Barat sebagai benua yang hilang dan benua yang memiliki peradaban sangat tinggi.

Kelicikan Kelicikan Ahli Sejarah Belanda Jilid 2, Mengadu Domba Nusantara


   C.C. Berg melakukan studi dengan tujuan agitasi budaya ke etnis terbesar Nusantara, Jawa dan Sunda. Lebih dari 40 % penduduk Nusantara, adalah etnis Jawa, 20 % etnis Sunda, sedangkan sisanya 40 % merupakan campuran dari 400 etnis lain yang ada di seluruh Indonesia. Dengan membenturkan kedua suku terbesar di Indonesia ini pemerintah kolonial Belanda akan dengan mudah menguasai Nusantara.
Strategi licik Belanda ini terlihat jelas. Jika melihat waktu pembuatan kidung Sunda (di Jawa Barat) dan Sundayana (di Bali), terlihat jelas kaitan kidung ini, dengan jangkauan ekspansi penyatuan Pulau Jawa Bali yang dirancang Sultan Agung. Dengan menumbuhkan semangat anti etnis Jawa, diharap daerah kekuasaan Sultan Agung tidak meluas. Tahun pengumuman penelitian CC. Berg dilakukan pada tahun 1828,  diarahkan untuk tujuan yang sama, membatasi  daerah sebaran Perang Diponegoro.
Prof. Dr. Cristian Snouch Horgronye adalah contoh inspirator strategi Kuda Troya Belanda di Aceh. Berpura-pura masuk Islam dan menimba ilmu di Mekkah, Haji Snouch, membuat ratusan atau bahkan ribuan Hadits palsu.
Tujuan utama Snouch, menghancurkan perjuangan rakyat Aceh dari dalam. Dari satu surau ke surau Snouch mengkampanyekan hadits palsu yang melemahkan perjuangan rakyat. Pada kisaran 1900-an pejuangan utama rakyat Aceh berhenti dengan gugurnya Teuku Umar (1899), Cut Nya’Dien (1905) dan keluarga. Akan tetapi seluruh pertempuran Aceh baru berhenti pada tahun 1942, ketika Jepang mengalahkan Belanda.
Setelah Proklamasi kemerdekaan, Westerling dengan arahan ratu Belanda, mengangkat kepercayaan kedatangan Ratu Adil. Sebuah pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang didominasi oleh pasukan elit baret merah Belanda sempat membuat kocar-kacir petahanan TNI di Jakarta dan Bandung. Puluhan prajurit TNI tewas di tangan pasukan elit baret merah. Akan tetapi Ratu Adil buatan ini, berhasil dipukul mundur dan dihancurkan.
Pemerintah Kolonial Belanda, memiliki strategi yang sangat cerdik dalam menguasai Nusantara. Selain memanfaatkan strategi devide et impera yang terkenal itu, Belanda juga menggunakan strategi perang Trojan Horse yang sangat terkenal pada Yunani kuno. Kisah Romantisme tendensius Perang Bubat adalah salah satu strategi kuda troya yang digunakan oleh Belanda untuk memecah etnis Sunda Jawa. Peristiwa  silang pendapat di lapangan Bubat dipelintir dan diselewengkan untuk tujuan strategi pecah belah. Silang pendapat yang tidak pernah memakan korban jiwa, dari pihak manapun di lapangan Bubat. Dan ironisnya, Belanda berhasil menanamkan fiksi trauma ini sampai ratusan tahun kemudian. Sampai saat ini masih banyak yang percaya peristiwa pembantaian Bubat terjadi. Bahkan rasa dendam masih membara pada sebagian etnis suku Jawa dan Sunda.

Kelicikan Kelicikan Ahli Sejarah Belanda Jilid 1, mengadu domba Nusantara

Berbagai bukti sejarah berhasil mengungkap kelicikan Pemerintah Kolonial Belanda dalam mendramatisir Peristiwa Sejarah Perang Bubat. Dengan dukungan penelitian ahli sejarah yang diarahkan. Pemerintah Kolonial Belanda berharap terjadi perpecahan besar di Indonesia antar dua suku utama yang ada di Indonesia. Detil peristiwa Perang Bubat sendiri baru dipublikasikan di Belanda oleh Prof Dr. C.C. Berg pada tahun 1828 dari Kitab Kidung Sundayana (Bali) dan Kitab Kidung Sunda (Jawa Barat). Tahun publikasi penelitian ini adalah tahun ketika di Jawa Tengah sedang berkobar Perang Diponegoro (1825-1830). Sebuah upaya provokatif Kolonial Belanda untuk membendung Perang Diponegoro yang terindikasi meluas ke arah Jawa Barat. Simpati dari warga muslim Sunda untuk mendukung Pangeran Diponegoro pada saat itu sudah mulai terlihat. Dan jika dibiarkan maka perang Diponegoro akan meluas ke arah Jawa Barat, yang notabene memiliki hubungan batin agama Islam yang kuat dengan Pangeran Diponegoro.
       
Kidung Sunda sendiri memiliki kerangka waktu pembuatan, pada kisaran tahun 1628-1629, pada saat Sultan Agung Hanyokrokusumo sedang menghadapi pertempuran dengan VOC Belanda di Batavia. Pasukan Mataram yang hadir ke Jawa Barat dihadang oleh Belanda dengan berbagai macam cara. Diantaranya dengan kekuatan budaya Kidung Sunda, Cerita Parahiyangan, dan juga Naskah Wangsakerta. Dengan membangkitkan semangat kebencian antar etnis, Belanda berharap pasukan Mataram dapat dipukul mundur oleh kekuatan sentimen romantisme Sunda. Dalam sejarah, bentrok antara pasukan Mataram dan Sunda terjadi juga di beberapa lokasi. Pasukan Mataram sempat berperang dengan pasukan Sunda yang terinspirasi dengan kidung sedih buatan ini.

Sumber Pararaton yang dijadikan rujukan, tidak menceritakan secara detil Perang Bubat. Dalam Pararaton hanya ada informasi lokasi lapangan Bubat tanpa kisah detil pertempurannya. Banyak ahli sejarah yang mengutip penelitian C.C. Berg tanpa mempertimbangkan aspek kebenaran sejarah. Bahkan ahli sejarah dalam negeri banyak yang berhasil ditipu oleh Profesor C.C. Berg. Kitab resmi Negarakertagama atau Desawarnana yang ditulis oleh pujangga keraton Majapahit Mpu Prapanca, tidak menceritakan Perang Bubat. Padahal banyak kisah yang jauh lebih memalukan lainnya, ditulis dalam Negarakertagama. Kekalahan Jayanegara dari Pemberontak Ra Kuti. Kisah pembunuhan Brawijaya II ditangan Ra Tancha, jauh lebih memalukan Majapahit, akan tetapi tertulis resmi dalam Negarakertagama.