Raden Panji Wanayasa putra Bagus Wanabaya disemayamkan di Setu Jatijajar Tapos Depok, selain menikah dengan seorang wanita keturunan China di daerah Glodok , Panji Wanayasa juga menikah dengan seorang gadis dari Priangan, dari gadis Priangan tersebut beliau mempunyai beberapa beberapa orang putra yang menyebar diwilayah Jawa Barat antara embah dalem Mahmud Abdul Manaf di Margahayu Bandung dan Embah Dalem Arif Muhammad di Cileles Garut, para keturunan mereka mengetahui bahwa leluhur mereka adalah orang Mataram yang menetap di wilayah mereka sekarang ini, salah satu yang sedang kami telusuri adalah apakah Letnan Untung Suropati adalah salah satu anak dari Raden Panji Wanayasa di Jatijajar. Dalam jejak rekam VOC Belanda diceritakan bahwa Untung adalah salah satu bengsawan Bali yang dijadikan budak di Batavia, tetapi jejak ini dikemukakan sesudah Untung lari ke Mataram dan menggalang orang Mataram untuk bersekutu dengannya, makanya pihak Belanda segera mengcounter keberadaan Untung agar tidak bisa dipercaya oleh orang orang Mataram, maka dipilihlah latar belakang untung sebagai orang Bali yang mempunyai latar belakang Hindu, namun pihak Kraton Mataram di Surakarta tidak terkecoh dan tetap menganggap bahwa untung masih berdarah keturunan Mataram dari Panembahan Senopati ke Roro Pembayun dan Ki Ageng Mangir, seandainya benar maka Untung Suropati adalah salahsatu keturunan Mangir yang menjadi Pahlawan Nasional, namun nasibnya sama dengan Ki Ageng Mangir yaitu gugur dipertempuran dengan jenazah dikuburkan tanpa nisan tanpa tanda apapun.Gambar latar :Danau Jatijajar,Tapos Depok Jawa Barat, diambil Jumat 25 Januari 2013 jam 17.00. Setu ini adalah lokasi makam Raden Panji Wanayasa, Putra Ki Bagus Wanabaya Putra Ki Ageng Mangir - Roro Pembayun, putri kesayangan Panembahan Senopati Mataram
Rabu, 13 Februari 2013
Arif Maulana, Jejak Keturunan Panji Wanayasa di Leles Garut
Raden Panji Wanayasa putra Bagus Wanabaya disemayamkan di Setu Jatijajar Tapos Depok, selain menikah dengan seorang wanita keturunan China di daerah Glodok , Panji Wanayasa juga menikah dengan seorang gadis dari Priangan, dari gadis Priangan tersebut beliau mempunyai beberapa beberapa orang putra yang menyebar diwilayah Jawa Barat antara embah dalem Mahmud Abdul Manaf di Margahayu Bandung dan Embah Dalem Arif Muhammad di Cileles Garut, para keturunan mereka mengetahui bahwa leluhur mereka adalah orang Mataram yang menetap di wilayah mereka sekarang ini, salah satu yang sedang kami telusuri adalah apakah Letnan Untung Suropati adalah salah satu anak dari Raden Panji Wanayasa di Jatijajar. Dalam jejak rekam VOC Belanda diceritakan bahwa Untung adalah salah satu bengsawan Bali yang dijadikan budak di Batavia, tetapi jejak ini dikemukakan sesudah Untung lari ke Mataram dan menggalang orang Mataram untuk bersekutu dengannya, makanya pihak Belanda segera mengcounter keberadaan Untung agar tidak bisa dipercaya oleh orang orang Mataram, maka dipilihlah latar belakang untung sebagai orang Bali yang mempunyai latar belakang Hindu, namun pihak Kraton Mataram di Surakarta tidak terkecoh dan tetap menganggap bahwa untung masih berdarah keturunan Mataram dari Panembahan Senopati ke Roro Pembayun dan Ki Ageng Mangir, seandainya benar maka Untung Suropati adalah salahsatu keturunan Mangir yang menjadi Pahlawan Nasional, namun nasibnya sama dengan Ki Ageng Mangir yaitu gugur dipertempuran dengan jenazah dikuburkan tanpa nisan tanpa tanda apapun.Selasa, 29 Januari 2013
Legenda Pangeran Pengampun, Sosok Misterius dunia persilatan Nusantara
Bagi para guru sepuh ilmu silat, nama Pangeran Pengampun bukanlah
nama yang asing. Tetapi pada saat sekarang mungkin hanya beberapa
perguruan ssaja yang masih mengenalkan sosok legendaris Pangeran
Pengampun. Konon ilmu silat sudah dikenal jauh sebelum agama Hindu dan Buddha
masuk ke nusantara. Dimana dibuktikan bahwa di Nusantara ini (sebut saja
Pulau Jawa), sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi. Banyak fosil
manusia tertua didunia ditemukan di daratan pulau Jawa, seperti dimulai
dari pithecantrphus eretus sampai ke Mojokerto soloensis.
Konon di pulau Jawa dalam legenda pernah ada suatu negara atau
kerjaan yang sudah menganut faham monotheos. Yang diapit oleh dua
Samodra yakni Samudra Hindia dan samudra Pasicik. Negera tersebut
disebut negara Hartharanus. Dimana Prabu Heru Cakra sebagai rajanya. Pada
masa ini bahasa resmi kerajaan bernama bahasa Ingsun Sabda yang biasa
disebut dengan akronim Sun-Da. Dipercaya bahwa bahasa Sun-Da adalah
bahasa kerajaan yang dipakai saat itu. Pulau Jawa adalah merupakan
daerah kapital dari kerajaan Hartharanus. Layaknya sebuah bahasa, maka
setiap bahasa memeiliki charakter sebagai sarana untuk berkomunikasi
tulis. Dalam kenyataanya aksara Sun-Da hingga saat ini masih ada dan
dimiliki oleh mereka yang berusaha untuk melestarikan agar tidak punah.
Meski mereka sudah tidak bisa membacanya lagi.
Pangeran Penganpun adalah satu diantara kerabat prabu Heru Cakra yang
namanya tetap hidup sampai saat sekarang. Dimana ilmu yang digelar oleh
Pangeran Pengampun adalah ilmu pengharkatan energi yang berbasis pada
hubungan urat syarat yang berhubungan dengan setiap ruas tulang manusia.
Khususnya Ruas tulang belakang dari mulai tulang ekor sampai dengan
tulang tengkorak. Ilmu tersebut dikenal dengan istilah Gelang Naga
(Gelang tenaga). Konon dinasti Shambala dari Tibet mempelajari ilmu ini
melalui pertukaran budaya pada masa kejayaan Sriwijaya. Yang kemudian
dikenal dengan ilmu Kala Cakra..
Jelasnya bahwa keilmuan Gelang Naga (gelang tenaga) yang
membangkitkan (harkatan /herkaton) energi melalui ring-ring dari
disetiap ruas tulang manusia. Dimana setiap disetiap ring ruas tulang
terhubung dengan urat syaraf yang berhubungan dengan organ organ vital
manusia. Yang dalam pengertianya jika energi ini mengalami hambatan,
maka ada bagian spesifik tubuh yang tidak teraliri oleh energi yang
dirasakan sebagai rasa sakit di organ tersebut yang terasa tidak nyaman.
Masuknya agama Hindhu dan Buddha ke Jawa, menyebabkan keilmuan yang
berasal dari Pangeran Pengampun semakin maju bahkan beredar keluar pulau
Jawa. Namun lafads Pengampun sangat sulit diucapkan bagi orang diluar
Jawa. Sehingga pemujaan terhadapa Pangeran Pengampun hanyalah terdengar
seperti gumanan / lafads yang berbunyi Houm houm houm). Demikian pula
setelah Nusantara dimasuki agama Islam pemujaan terhadap Pangeran
Pengampun disebut sebagai Waliullah wakil Kesatu. Dari sekian banyak
ilmu hikmah yang diajarkan oleh para Wali banyak menyebutkan Pangeran
Pengampun Waliullah wakil kesatu
Sehingga secara jelas bahwa legenda Pangeran Pengampun tetap hidup
dimulai dari zaman Pra Hindu Budha sampai saat sekarang. Sosok Pangeran
Pengampun adalah tokoh yang tidak masuk dalam catatan sejarah dan
namanya hidup dimasyarakat maka beliau menjadi tokoh legenda. Akan
tetapi bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu hikmah akan menemui sebutan
Pangeran Pengampun waliullah wakil kesatu didalam mantra2 tertentu.
Di tatar Sunda (parahiangan), dipercaya bahwa Pangeran Pengampun
pernah hidup di Bantar Kawung Cianjur Jawa barat. Sedangkan di Jawa
Tengah Pangeran Pengampun dipercaya pernah hidup di masa kerajaan
Hartharnus. Dan dihormati namanya oleh para Wali dengan sebutan
Waliullah wakil Kesatu yang artinya Wakil yang berkaromah yang
berkedudukan diatas para wali.
Kesimpulan sementara: Pertama. Bahwa di pulau Jawa ada bahasa
kesatuan yang disebut Bahasa Sun-da (bahasa Ingsun Sabda). Kedua.
Keilmuan tentang energi berkaitan dengan energi yang memancar / merambat
dari settiap ruas tulang manusia khususnya ruas ruas tulang punggung.
mengalir melalui urat syarat menuju organ organ tubuh yang vital. Ketga:
banyak versi tentang legenda Pangeran Pengampun yang beredar di
masyarakat. Keempat. Negara Hartharanus jika dibaca dari belakang
menjadi Nusantara. Kelima. Dalam spelling orang Barat kata Hartharnus
menjadi Atlantis. Yang dipercaya oleh orang Barat sebagai benua yang
hilang dan benua yang memiliki peradaban sangat tinggi.
Kelicikan Kelicikan Ahli Sejarah Belanda Jilid 2, Mengadu Domba Nusantara
Strategi licik Belanda ini terlihat jelas. Jika melihat waktu pembuatan kidung Sunda (di Jawa Barat) dan Sundayana (di Bali), terlihat jelas kaitan kidung ini, dengan jangkauan ekspansi penyatuan Pulau Jawa Bali yang dirancang Sultan Agung. Dengan menumbuhkan semangat anti etnis Jawa, diharap daerah kekuasaan Sultan Agung tidak meluas. Tahun pengumuman penelitian CC. Berg dilakukan pada tahun 1828, diarahkan untuk tujuan yang sama, membatasi daerah sebaran Perang Diponegoro.
Prof. Dr. Cristian Snouch Horgronye adalah contoh inspirator strategi Kuda Troya Belanda di Aceh. Berpura-pura masuk Islam dan menimba ilmu di Mekkah, Haji Snouch, membuat ratusan atau bahkan ribuan Hadits palsu.
Tujuan utama Snouch, menghancurkan perjuangan rakyat Aceh dari dalam. Dari satu surau ke surau Snouch mengkampanyekan hadits palsu yang melemahkan perjuangan rakyat. Pada kisaran 1900-an pejuangan utama rakyat Aceh berhenti dengan gugurnya Teuku Umar (1899), Cut Nya’Dien (1905) dan keluarga. Akan tetapi seluruh pertempuran Aceh baru berhenti pada tahun 1942, ketika Jepang mengalahkan Belanda.
Setelah Proklamasi kemerdekaan, Westerling dengan arahan ratu Belanda, mengangkat kepercayaan kedatangan Ratu Adil. Sebuah pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang didominasi oleh pasukan elit baret merah Belanda sempat membuat kocar-kacir petahanan TNI di Jakarta dan Bandung. Puluhan prajurit TNI tewas di tangan pasukan elit baret merah. Akan tetapi Ratu Adil buatan ini, berhasil dipukul mundur dan dihancurkan.
Pemerintah Kolonial Belanda, memiliki strategi yang sangat cerdik dalam menguasai Nusantara. Selain memanfaatkan strategi devide et impera yang terkenal itu, Belanda juga menggunakan strategi perang Trojan Horse yang sangat terkenal pada Yunani kuno. Kisah Romantisme tendensius Perang Bubat adalah salah satu strategi kuda troya yang digunakan oleh Belanda untuk memecah etnis Sunda Jawa. Peristiwa silang pendapat di lapangan Bubat dipelintir dan diselewengkan untuk tujuan strategi pecah belah. Silang pendapat yang tidak pernah memakan korban jiwa, dari pihak manapun di lapangan Bubat. Dan ironisnya, Belanda berhasil menanamkan fiksi trauma ini sampai ratusan tahun kemudian. Sampai saat ini masih banyak yang percaya peristiwa pembantaian Bubat terjadi. Bahkan rasa dendam masih membara pada sebagian etnis suku Jawa dan Sunda.
Kelicikan Kelicikan Ahli Sejarah Belanda Jilid 1, mengadu domba Nusantara
Kidung Sunda sendiri memiliki kerangka waktu pembuatan, pada kisaran tahun 1628-1629, pada saat Sultan Agung Hanyokrokusumo sedang menghadapi pertempuran dengan VOC Belanda di Batavia. Pasukan Mataram yang hadir ke Jawa Barat dihadang oleh Belanda dengan berbagai macam cara. Diantaranya dengan kekuatan budaya Kidung Sunda, Cerita Parahiyangan, dan juga Naskah Wangsakerta. Dengan membangkitkan semangat kebencian antar etnis, Belanda berharap pasukan Mataram dapat dipukul mundur oleh kekuatan sentimen romantisme Sunda. Dalam sejarah, bentrok antara pasukan Mataram dan Sunda terjadi juga di beberapa lokasi. Pasukan Mataram sempat berperang dengan pasukan Sunda yang terinspirasi dengan kidung sedih buatan ini.
Sumber Pararaton yang dijadikan rujukan, tidak menceritakan secara detil Perang Bubat. Dalam Pararaton hanya ada informasi lokasi lapangan Bubat tanpa kisah detil pertempurannya. Banyak ahli sejarah yang mengutip penelitian C.C. Berg tanpa mempertimbangkan aspek kebenaran sejarah. Bahkan ahli sejarah dalam negeri banyak yang berhasil ditipu oleh Profesor C.C. Berg. Kitab resmi Negarakertagama atau Desawarnana yang ditulis oleh pujangga keraton Majapahit Mpu Prapanca, tidak menceritakan Perang Bubat. Padahal banyak kisah yang jauh lebih memalukan lainnya, ditulis dalam Negarakertagama. Kekalahan Jayanegara dari Pemberontak Ra Kuti. Kisah pembunuhan Brawijaya II ditangan Ra Tancha, jauh lebih memalukan Majapahit, akan tetapi tertulis resmi dalam Negarakertagama.
Jejak Pasukan Mataram Yogyakarta : Hamengkubiwono I / II
![]() |
| Hamengkubuwono I |
Dari potongan kisah di atas tampak sekali kalau satuan prajurit merupakan perangkat strategi dan taktik pertahanan serta representasi dari kekuatan politik seorang raja. Tumbuh dan berkembangnya sebuah dinasti baru juga tidak terlepas dari keberadaan kesatuan-kesatuan tersebut. Pada masa Hamengku Buwono I - Hamengku Buwono II kegiatan penjelajahan prajurit Kraton ke wilayah-wilayah mancanegara masih terus dilakukan untuk mempertahankan dominasi dan menunjukkan kekuatan militer kerajaan ini.
Untuk mendukung kegiatan militer tersebut, sarana dan prasarana prajurit serta persenjataan yang dimiliki menjadi kelengkapan penting dan sangat diperhitungkan oleh pihak-pihak luar. Persenjataan prajurit terdiri atas beberapa jenis senjata api (meriam, senapan, dan pistol) dan senjata tradisional antara lain tombak, keris, panah, pedang, dan alat pelindung badan berupa tameng. Di samping itu, juga terdapat kelengkapan pendukung yaitu terompet, bendhe dan simbal (kecer), sebagai alat musik (unen-unen) yang dibunyikan sebagai pertanda dimulainya suatu kegiatan prajurit. Beberapa simbal Keraton kemudian diangkat sebagai pusaka dengan nama, Kiai Sima, Kiai Udan Arum, dan Kiai Tundhung Mungsuh.
Kelengkapan dan besarnya kesatuan prajurit pada masa Hamengku Buwono I menjadi tolok ukur dari kekuatan militer kerajaan. Terbukti pada tahun 1781 M Kumpeni Belanda melalui Gubernur J. Siberg pernah meminta bantuan prajurit Kraton Yogyakarta berjumlah 1132 orang untuk dikirim ke Batavia. Rincian jumlah tersebut adalah 1000 orang prajurit biasa, 100 orang dari Putra Mahkota, dan sisanya perwira. Dalam Babad Mangkubumi (Pupuh LXXII, Pangkur) disebutkan :"... kang eyang Jenderal, ing mangke karsanya ugi, nuwun bantu Kangjeng Sultan, pratiwa keh sewu tumameng wajik." (Kakek Jenderal, maksudnya Gubernur Jenderal, punya maksud agar Kanjeng Sultan membantu dengan seribu prajurit yang dilengkapi perisai). Prajurit-prajurit Kraton Yogyakarta tersebut sedianya dipersiapkan untuk menghadapi serbuan tentara Inggris yang telah menyatakan perang dengan Belanda dan telah mengadakan berbagai serangan di kawasan Eropa serta Asia Tenggara. Masa tugas kesatuan prajurit kraton di Batavia sampai dengan bulan Oktober 1783 M. Setelah prajurit kraton selesai bertugas, Hamengku Buwono I kemudian mendapatkan hadiah 12 meriam dari Residen Yogyakarta (Ricklefs, 2002).
Untuk menunjukkan kekuatan pertahanan kerajaan, di samping memiliki kesatuan prajurit saat itu Keraton juga mendirikan sarana untuk pertahanan yaitu benteng pertahanan (baluwarti) yang mengelilingi area cepuri kedhaton dan dilengkapi dengan parit keliling (jagang) di sisi luarnya. Benteng Kraton tersebut dibangun pada masa pemerintahan Hamengku Buwono I oleh Putra Mahkota (kelak naik tahta menjadi Hamengku Buwono II) pada tahun Jimakir, 1706 Jw. Benteng baluwarti didirikan dengan candrasengkala "Rasa Sunyo Lenggahing Panunggal" atau tahun 1782 M dengan suryasengkala "Paningaling Kawicaksanan Salingga Bathara" (Tashadi, ed., 1979). Sebagai penanggungjawab kegiatan pembangunan benteng adalah patih putra mahkota, yaitu Tumenggung Wiraguna (Ricklefs, 2002). Keberadaan benteng dalam strategi pertahanan merupakan salah satu fasilitas penting yang menyatu dengan tugas-tugas keprajuritan untuk perlindungan. Keberadaan benteng Kraton tersebut pernah mendapat perhatian dari Gubernur Belanda J. Siberg (1780 -1787 M). Ia pada tahun 1785 M mengirimkan tim pengamat benteng pertahanan yang terdiri para taruna maritim Belanda dari Semarang. Di samping itu, ketika Gubernur Jan Greeve melakukan perjalanan ke Yogyakarta antara tanggal 5-15 Agustus 1788 M, pada 6 Agustus ia melakukan pemeriksaan dengan mata kepala sendiri ke benteng tersebut (Ricklefs, 2002).
J. Greeve yang datang bersama Residen Surakarta Hartsinch juga menyaksikan kesatuan-kesatuan prajurit yang terlatih dan menyambutnya dengan salvo senapan dan meriam. Bahkan ketika berkunjung ke sebuah Pesanggrahan Putra Mahkota yaitu Rejawinangun di bagian sisi timur kraton, juga melihat keberadaan kesatuan-kesatuan prajurit berkuda putri dari Kadipaten. Berdasarkan bukti catatan kunjungan yang ada dalam Dagregister 20 Agustus 1788 tersebut, kepada mereka juga dipertontonkan olah keprajuritan dalam memburu kijang untuk ditangkap hidup-hidup (TBG, vol. 27: 1882). Kegiatan tersebut dilakukan di tempat perburuan kijang yang berada di sebelah selatan kraton, di Krapyak.
Pada masa Hamengku Buwono II, prajurit berkuda putri tersebut dinamakan kesatuan Langenkusuma, yang keberadaannya dipusatkan di Pesanggrahan Madyaketawang. Di samping itu, prajurit Langenkusuma yang bersenjata senapan juga melakukan latihan (gladhen) di Alun-alun Pungkuran yang berada di sebelah selatan kraton. Dalam Serat Rerenggan Karaton, Pupuh XXII, Sinom, disebutkan : "Sanggrahan Madya Ketawang, lamun miyos Sri Bupati, pratameng Langenkusuma, lir priya praboting jurit, tinonton saking tebih, saengga priya satuhu, samya munggeng turangga, myang yen gladhi neng praja di, angreh kuda neng ngalun-alun pungkuran." (terjemahannya: di Pesanggrahan Madyaketawang, dan datanglah Sri Bupati (maksudnya Sri Sultan) untuk menyaksikan, pemimpin pasukan Langenkusuma (yang perempuan itu), mirip penampilan prajurit lelaki, dilihat dari jauh, tampak seperti prajurit laki-laki sungguhan, semua naik kuda, menuju tempat latihan di ibukota, yaitu di Alun-alun Pungkuran atau Alun-alun Selatan).
Senin, 28 Januari 2013
Makam Ambo Mayangsari, Istri Pangeran Purbaya Putra Sultan Ageng Tirtayasa Banten 1685
Makam istri Pangeran Purbaya ini terletak di Kampung Cimpaeun Tapos Depok Jawa Barat, Pangeran Purbaya adalah putra Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang berperang dengan anaknya sendiri Sultan Haji (Putra mahkota yang takut tahtanya dialihkan ke Pangeran Purbaya) yang berdiri dipihak VOC Belanda, Mbah Nyai Ambo Mayangsari masih keturunan dari Ki Kartaran atau Purwagalih keturunan Prabu Siliwangi yang bermakam di dalam kompleks Kebun Raya Bogor. Peranan Ambo Mayangsari dalam peperangan Banten dengan VOC sangat vital, sebab beliaulah yang mengatur logistik dan pengadaan dana pelarian, dua panglima lainnya adalah Mbah Riin (Arifin) Reksobuwono yang dimakamkan di atas rumah potong hewan Tapos dan Mbah Dalem Kuning Lie Suntek yang dimakamkan di tepi mata air Kali Sunter Cilangkap Tapos Depok. Ambo Mayangsari adalah tokoh pejuang perempuan yang mampu menyadarkan arti kemerdekaan sehingga Letnan VOC Untung berbalik memusuhi tentara VOC yang ikut menangkap Pangeran Purbaya, bahkan Letnan VOC Kueffler mati ditusuk bayonet Letnan Untung karena menghinakan Pangeran Purbaya dan Ambo Mayangsari yang telah terikat. Letnan Untung akhirnya menuju Mataram Surakarta ke Jawa Timur karena mendapat mandat Pangeran Purbaya untuk mengawal istri Pangeran Purbaya yang lain yaituNyai Gusik Kusuma, putri dari adipati Nerangkusumo dari Mataram Surakarta. Gambar diambil pada tanggal 28 Januari 2012, tampak dalam gambar jurukunci makam , Bapak Naih.
Minggu, 27 Januari 2013
Ki Ageng Mangir Pembayun dan keturunannya : Makam Raden Bagus Panji Wanayasa di Setu Jatijajar Tapos Depok
![]() ![]() |
| Cungkup Makan Raden Panjiwanayasa, Putra Ki Bagus Wanabaya Cucu Ki Ageng Mangir |
![]() |
| Danau Jatijajar, peristirahan terakhir perwira intelejen Mataram1629 |
![]() |
| Raden Panjiwanayasa menyamar menjadi tehnisi kereta kuda di alam Benteng Batavia 1626 -1629 |
![]() |
| Nisan Cicit Panembahan Senopati Mataram |
![]() |
| Setu Jatijajar, dikeruk VOC untuk mencari harta karun Banten |
Langganan:
Postingan (Atom)



















