 |
| Hamengkubuwono I |

Pada masa pemerintahan Hamengku Buwono I (1755 - 1792 M) dan Hamengku
Buwono II (1792 - 1810, 1812 M) di Kraton Yogyakarta, keberadaan
prajurit tempur menjadi kesatuan militer yang sangat penting. Tidak kurang dari
15 kesatuan abdi dalem prajurit pernah ada pada awal lahir dan
perkembangan kraton. Pada saat berperang melawan VOC Londo Pangeran Mangkubumi
telah mempunyai bregada prajurit yang handal (Prajurit Mantrijero),
yang berhasil membunuh Mayor Clereq di pertempuran Jenar pada tanggal 12
Desember 1751 atau 22 Sura tahun Jimawal 1677 J. Di dalam Serat
Kuntharatama (G.P.H. Buminata, 1958) kejadian ini disebutkan sebagai
berikut. "Kocapa barisanipun S.D.I.S Kangjeng Susuhunan dipun tempuh senapatining
bangsa Walandi nama Mayor Clereq, ing riku saya rame sanget
ungkih-ingungkih, dangu-dangu mayor Clereq kesisan wadya, sabab kathah
ingkang pejah sarta tatu, punapa dene kaplajar nilar senapatinipun,
Sareng Mayor Clereq katingal ngalela, boten talompe abdi Dalem Mantri
Lebet (Mantri Jero, Pen.) nama Wiradigda anjangkah amaos, anamung cuwa
dene ngengingi pundhak ingkang linapis ing kere waja. Mayor Clereq
sareng sabetipun dhawah lajeng trengginas narik pistol, anamung
sinarengan panjangkahipun mantri lebet nama Prawirarana, nyuduk
ngengingi jangganipun. Wusana Mayor Clereq dhawah kalumah lajeng dipun
kakahi dening mantri wau, tumunten dipun sembeleh. Sapejahipun senapati
Walandi nama Mayor Clereq sadaya sami lumajar rebat gesang."

Terjemahannya: Tersebutlah Barisan pasukan SDIS Kanjeng Susuhunan
berhadapan langsung dengan komandan pasukan Belanda bernama Mayor
Clereq. Terjadi pertempuran jarak dekat yang sengit, lama kelamaan Mayor
Clereq kehabisan serdadu, sebab banyak yang mati terbunuh atau
melarikan diri, meninggalkan komandannya. Mayor Clereq terlihat lengah,
segera seorang abdi Dalem Mantri Lebet (Mantri Jero, Pen.) bernama
Wiradigda maju ke depan menusuk dia. Tetapi dia kecewa sebab tusukannya
mengenai baju besi di pundak. Mayor Clereq setelah melihat serangan
lawan gagal ia segera menarik pistol mau membunuh abdi dalem prajurit
tadi. Untung saat itu ada abdi dalem Mantri Lebet lain bernama
Prawirarana, dengan tangkas menusuk leher komandan serdadu Belanda itu.
Mayor Clereq jatuh terlentang kemudian diburu oleh dua Mantri tadi lalu
dibunuh. Setelah komandan Belanda itu mati, serdadu Belanda yang masih
hidup cepat-cepat melarikan diri dari medan perang.
Dari potongan kisah di atas tampak sekali kalau satuan prajurit
merupakan perangkat strategi dan taktik pertahanan serta representasi
dari kekuatan politik seorang raja. Tumbuh dan berkembangnya sebuah
dinasti baru juga tidak terlepas dari keberadaan kesatuan-kesatuan
tersebut. Pada masa Hamengku Buwono I - Hamengku Buwono II kegiatan
penjelajahan prajurit Kraton ke wilayah-wilayah mancanegara masih terus
dilakukan untuk mempertahankan dominasi dan menunjukkan kekuatan militer
kerajaan ini.

Ada beberapa kelengkapan strategis prajurit terutama dapat dilihat dari
berbagai strategi dan taktik klasik yang diterapkan dalam peperangan
yang disebut gelar perang. Dalam Serat Kuntaratama disebutkan antara
lain "gelar garudha nglayang dan sapit urang". Strategi gelar garudha
nglayang diterapkan dalam pertempuran di daerah Jenar Purworejo tahun
1751 M (1677 Jw), sedangkan sapit urang diterapkan dalam pertempuran di
daerah Madiun (Buminata, 1946).
Untuk mendukung kegiatan militer tersebut, sarana dan prasarana prajurit
serta persenjataan yang dimiliki menjadi kelengkapan penting dan sangat
diperhitungkan oleh pihak-pihak luar. Persenjataan prajurit terdiri
atas beberapa jenis senjata api (meriam, senapan, dan pistol) dan
senjata tradisional antara lain tombak, keris, panah, pedang, dan alat
pelindung badan berupa tameng. Di samping itu, juga terdapat kelengkapan
pendukung yaitu terompet, bendhe dan simbal (kecer), sebagai alat musik
(unen-unen) yang dibunyikan sebagai pertanda dimulainya suatu kegiatan
prajurit. Beberapa simbal Keraton kemudian diangkat sebagai pusaka
dengan nama, Kiai Sima, Kiai Udan Arum, dan Kiai Tundhung Mungsuh.

Kelengkapan dan besarnya kesatuan prajurit pada masa Hamengku Buwono I
menjadi tolok ukur dari kekuatan militer kerajaan. Terbukti pada tahun
1781 M Kumpeni Belanda melalui Gubernur J. Siberg pernah meminta bantuan
prajurit Kraton Yogyakarta berjumlah 1132 orang untuk dikirim ke
Batavia. Rincian jumlah tersebut adalah 1000 orang prajurit biasa, 100
orang dari Putra Mahkota, dan sisanya perwira. Dalam Babad Mangkubumi
(Pupuh LXXII, Pangkur) disebutkan :"... kang eyang Jenderal, ing mangke
karsanya ugi, nuwun bantu Kangjeng Sultan, pratiwa keh sewu tumameng
wajik." (Kakek Jenderal, maksudnya Gubernur Jenderal, punya maksud agar
Kanjeng Sultan membantu dengan seribu prajurit yang dilengkapi perisai).
Prajurit-prajurit Kraton Yogyakarta tersebut sedianya dipersiapkan
untuk menghadapi serbuan tentara Inggris yang telah menyatakan perang
dengan Belanda dan telah mengadakan berbagai serangan di kawasan Eropa
serta Asia Tenggara. Masa tugas kesatuan prajurit kraton di Batavia
sampai dengan bulan Oktober 1783 M. Setelah prajurit kraton selesai
bertugas, Hamengku Buwono I kemudian mendapatkan hadiah 12 meriam dari
Residen Yogyakarta (Ricklefs, 2002).

Untuk menunjukkan kekuatan pertahanan kerajaan, di samping memiliki
kesatuan prajurit saat itu Keraton juga mendirikan sarana untuk
pertahanan yaitu benteng pertahanan (baluwarti) yang mengelilingi area
cepuri kedhaton dan dilengkapi dengan parit keliling (jagang) di sisi
luarnya. Benteng Kraton tersebut dibangun pada masa pemerintahan
Hamengku Buwono I oleh Putra Mahkota (kelak naik tahta menjadi Hamengku
Buwono II) pada tahun Jimakir, 1706 Jw. Benteng baluwarti didirikan
dengan candrasengkala "Rasa Sunyo Lenggahing Panunggal" atau tahun 1782 M
dengan suryasengkala "Paningaling Kawicaksanan Salingga Bathara"
(Tashadi, ed., 1979). Sebagai penanggungjawab kegiatan pembangunan
benteng adalah patih putra mahkota, yaitu Tumenggung Wiraguna (Ricklefs,
2002). Keberadaan benteng dalam strategi pertahanan merupakan salah
satu fasilitas penting yang menyatu dengan tugas-tugas keprajuritan
untuk perlindungan. Keberadaan benteng Kraton tersebut pernah mendapat
perhatian dari Gubernur Belanda J. Siberg (1780 -1787 M). Ia pada tahun
1785 M mengirimkan tim pengamat benteng pertahanan yang terdiri para
taruna maritim Belanda dari Semarang. Di samping itu, ketika Gubernur
Jan Greeve melakukan perjalanan ke Yogyakarta antara tanggal 5-15
Agustus 1788 M, pada 6 Agustus ia melakukan pemeriksaan dengan mata
kepala sendiri ke benteng tersebut (Ricklefs, 2002).

J. Greeve yang datang bersama Residen Surakarta Hartsinch juga
menyaksikan kesatuan-kesatuan prajurit yang terlatih dan menyambutnya
dengan salvo senapan dan meriam. Bahkan ketika berkunjung ke sebuah
Pesanggrahan Putra Mahkota yaitu Rejawinangun di bagian sisi timur
kraton, juga melihat keberadaan kesatuan-kesatuan prajurit berkuda putri
dari Kadipaten. Berdasarkan bukti catatan kunjungan yang ada dalam
Dagregister 20 Agustus 1788 tersebut, kepada mereka juga dipertontonkan
olah keprajuritan dalam memburu kijang untuk ditangkap hidup-hidup (TBG,
vol. 27: 1882). Kegiatan tersebut dilakukan di tempat perburuan kijang
yang berada di sebelah selatan kraton, di Krapyak.
Pada masa Hamengku Buwono II, prajurit berkuda putri tersebut dinamakan
kesatuan Langenkusuma, yang keberadaannya dipusatkan di Pesanggrahan
Madyaketawang. Di samping itu, prajurit Langenkusuma yang bersenjata
senapan juga melakukan latihan (gladhen) di Alun-alun Pungkuran yang
berada di sebelah selatan kraton. Dalam Serat Rerenggan Karaton, Pupuh
XXII, Sinom, disebutkan : "Sanggrahan Madya Ketawang, lamun miyos Sri
Bupati, pratameng Langenkusuma, lir priya praboting jurit, tinonton
saking tebih, saengga priya satuhu, samya munggeng turangga, myang yen
gladhi neng praja di, angreh kuda neng ngalun-alun pungkuran."
(terjemahannya: di Pesanggrahan Madyaketawang, dan datanglah Sri Bupati
(maksudnya Sri Sultan) untuk menyaksikan, pemimpin pasukan Langenkusuma
(yang perempuan itu), mirip penampilan prajurit lelaki, dilihat dari
jauh, tampak seperti prajurit laki-laki sungguhan, semua naik kuda,
menuju tempat latihan di ibukota, yaitu di Alun-alun Pungkuran atau
Alun-alun Selatan).